TES OVULASI - CARA MENENTUKAN HARI SUBUR
Ovulasi adalah proses pelepasan sel telur matang dari folikel di dalam ovarium. Proses ini biasanya terjadi di tengah siklus menstruasi. Tes ovulasi yang bisa dilakukan sendiri di rumah bertujuan untuk mendeteksi hari ovulasi, sehingga hubungan suami istri yang dilakukan mendekati hari tersebut dapat meningkatkan peluang terjadinya kehamilan.
Untuk memahami cara kerja tes ini, kita perlu tahu dulu bagaimana siklus menstruasi dan ovulasi terjadi.
Bagaimana Siklus Menstruasi dan Ovulasi Terjadi?
Hari pertama haid adalah hari pertama dari sebuah siklus menstruasi. Satu siklus penuh rata-rata berlangsung sekitar 28-35 hari, dihitung dari hari pertama haid bulan ini sampai hari pertama haid bulan berikutnya.
Di awal siklus, hormon FSH yang dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis di otak mulai meningkat. Hormon ini merangsang pertumbuhan folikel dan sel telur. Seiring pertumbuhan folikel, hormon estrogen juga ikut meningkat.
Menjelang pertengahan siklus, sekitar 14 hari setelah haid pertama, kadar FSH dan estrogen mencapai puncaknya. Pada saat ini, terjadi lonjakan mendadak hormon LH (disebut LH surge). Lonjakan LH inilah yang menjadi pemicu utama terjadinya ovulasi. Biasanya, 24-36 jam setelah lonjakan LH, sel telur akan dilepaskan.
Tes ovulasi yang menggunakan urin bekerja dengan mendeteksi lonjakan LH ini. Sedangkan tes yang menggunakan air liur mendeteksi peningkatan estrogen.
Setelah ovulasi terjadi, kadar estrogen, FSH, dan LH akan turun, dan hormon progesteron mulai naik. Folikel yang sudah melepaskan sel telur akan berubah menjadi korpus luteum yang menghasilkan progesteron. Jika tidak terjadi kehamilan, progesteron akan turun dan memicu haid berikutnya. Jika terjadi kehamilan, progesteron akan tetap tinggi untuk mempertahankan kehamilan di dalam rahim.
Tes Ovulasi Urin (Tes LH)
Tes ini mendeteksi peningkatan hormon LH di dalam urin. Ketika kadar LH naik di dalam darah, hormon ini juga akan terbawa ke dalam urin.
Untuk menangkap momen kenaikan LH, tes harus dilakukan setiap hari mendekati hari perkiraan ovulasi.
Bagi wanita dengan siklus teratur 28 hari, disarankan mulai tes pada hari ke-12 setelah haid pertama, lakukan selama 5 hari berturut-turut. Jika siklus Anda lebih panjang, misalnya 35 hari, mulailah tes pada hari ke-18. Hal ini karena ovulasi terjadi lebih lambat. Secara umum, ovulasi terjadi sekitar 14 hari SEBELUM haid berikutnya datang. Jika siklus Anda sangat tidak teratur, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk menentukan kapan harus mulai tes.
Bagaimana Cara Menggunakan Tes Ovulasi?
Cara pemakaian bisa berbeda tergantung merek. Ada yang dicelupkan ke dalam wadah berisi urin, ada juga yang dipegang langsung saat buang air kecil. Selalu ikuti petunjuk yang ada di dalam kotak produk.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:
- Jangan gunakan urin pertama di pagi hari, karena bisa memberikan hasil yang kurang akurat.
- Obat-obatan seperti alkohol, rokok, antibiotik, pereda nyeri, atau obat supositoria biasanya tidak mempengaruhi hasil. Namun, obat hormonal untuk program hamil seperti suntikan pematangan telur (hCG) dapat membuat hasil menjadi positif palsu.
- Jangan minum terlalu banyak air 2 jam sebelum tes, karena urin yang terlalu encer dapat menurunkan konsentrasi LH dan menyebabkan hasil negatif palsu.
Jika Hasil Tes Ovulasi Positif
Umumnya, dua garis merah / pink berarti hasil positif, artinya lonjakan LH terdeteksi dan ovulasi akan terjadi dalam 24-36 jam ke depan. Satu garis berarti negatif.
Jika hasil positif, waktu terbaik untuk berhubungan adalah 24 jam setelah tes. Ingat, sel sperma bisa bertahan hidup sekitar 3 hari di dalam rahim, sedangkan sel telur hanya bertahan sekitar 24 jam. Jadi, masa subur seorang wanita sebenarnya adalah sekitar 5 hari, yaitu 3 hari sebelum ovulasi dan 1-2 hari sesudahnya. Berhubungan di dalam rentang waktu ini tetap memungkinkan terjadinya kehamilan.
Jenis Tes Ovulasi Lainnya
1. Tes Ovulasi Air Liur: Tes ini mendeteksi peningkatan estrogen melalui pola kristalisasi air liur. Namun, tes ini kurang praktis dan tidak sepopuler tes urin.
2. Tes Darah dan USG: Kadar LH juga bisa diukur melalui tes darah, tetapi cara ini jarang digunakan untuk prediksi rutin. Cara yang lebih akurat untuk melihat pendekatan ovulasi adalah melalui USG. Dokter akan melihat ukuran folikel; jika sudah mencapai 18-20 mm, ovulasi akan segera terjadi. Selain itu, pemeriksaan hormon progesteron pada hari ke-21 siklus haid yang menunjukkan hasil tinggi menandakan bahwa ovulasi telah terjadi bulan itu.
Komentar
Posting Komentar